Latest News

Showing posts with label Fenomena pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Fenomena pendidikan. Show all posts

Tuesday, April 12, 2011

Remaja Usia 14 Tahun, Raih Beasiswa S2

Anak Ajaib Colin Carlson (Foto : AP)
Anak Ajaib Colin Carlson (Foto : AP)
STORRS � Seorang remaja berusia 14 tahun asal Conventry, Amerika Serikat berhasil meraih beasiswa nasional sebesar USD30 ribu atau setara dengan Rp259 juta (Rp8.642 per USD) untuk studi pascasarjana. Anak ajaib bernama Colin Carlson ini tengah menempuh studi sarjana di Universitas Connecticut.

Menurut pihak universitas, Carlson adalah satu dari empat mahasiswa dari Universitas Connecticut yang menerima beasiswa prestisius Truman Scholar, sejak berdiri pada 1975.

Carlson mulai menjalani kuliah di Universitas Connecticut ketika berusia sembilan tahun. Kini, dia menjadi mahasiswa untuk gelar ganda dalam biologi evolusioner serta studi lingkungan dan ekologi. Seperti dikutip dari Huffingtonpost, Senin (11/4/2011).

Selain menerima beasiswa dari Truman Scholar, dia juga merupakan satu dari tiga mahasiswa yang mendapatkan USD7.500 setiap orang dari program beasiswa Barry M. Goldwater. Beasiswa ini diberikan kepada siswa yang merintis karir di bidang matematika, sains atau teknik.

Carlson mengaku berencana mengejar gelar sarjana hukum dan doktor, dan bekerja dalam bidang advokasi lingkungan.

AS 'Mencuri' Dokter dari Negara Miskin?

Di AS, selama puluhan tahun, sebanyak 25% dokter berasal dari negara lain. (Foto : Getty Images)
Di AS, selama puluhan tahun, sebanyak 25% dokter berasal dari negara lain. (Foto : Getty Images)
SISTEM pendidikan tinggi Amerika Serikat disebut sebagai yang terbaik di dunia. Ini terbukti dari masuknya Universitas Harvard, MIT, dan Princeton dalam jajaran universitas paling elit di dunia versi Times Higher Education. Namun begitu, Negeri Paman Sam tidak mampu mendidik tenaga dokter untuk kebutuhan negerinya.

Ini merupakan hasil analisa profesor filosofi dari University College London, Jonathan Wolff. Menurutnya, universitas di AS tidak berfungsi maksimal dalam memasok kebutuhan tenaga kerja untuk negaranya sendiri. AS mengandalkan keahlian dari orang yang dididik di tempat lain, seperti yang digambarkan buku Give Us Your Best and Brightest oleh Devesh Kapur dan John McHale.

Buku ini menjelaskan, sebanyak 40 persen warga keturunan India kelahiran Amerika Serikat mempunyai gelar sarjana, yang kebanyakan di bidang sains dan teknologi. Sementara warga asli kelahiran AS hanya sekitar 10 persen.

Gambaran paling jelas terlihat dalam pendidikan kedokteran. Sebuah laporan yang dilansir The Lancet (media mingguan paling prestisius di dunia medis) menunjukkan, AS tidak mampu melatih banyak dokter untuk memenuhi permintaan akan kesehatan. Pasalnya setiap tahun, lebih banyak dokter yang pensiun dibanding lulusan sekolah kedokteran.

Selama puluhan tahun, sebanyak 25 persen dokter yang bekerja di AS menempuh studi di tempat lain. Bahkan saat ini, tercatat sebanyak 200 persen dokter di AS belajar di luar negeri.
Sebanyak 5.000 dokter menjalani praktik di sub-Sahara Afrika, terutama Ghana, Nigeria dan Afrika Selatan. Pada 2002, ada 47 dokter asal Liberia yang bekerja di AS, dan hanya 72 yang bekerja di Liberia.

Di banyak negara, khususnya di negara berkembang, dokter menjalani praktik dengan mengorbankan publik. Jika seorang dokter dari Ghana direkrut bekerja di AS, maka Ghana tidak hanya kehilangan dokter, tapi juga kehilangan uang yang dibayar untuk praktik.

Memang para dokter yang bekerja di AS mengirim sebagian dari pendapatan mereka kembali ke rumah (dalam istilah bisnis disebut remiten/pengiriman uang). Tapi kompensasi ini jelas lebih sedikit dibanding yang diterima AS. Negara ini menerima uang yang tidak sedikit dari negara berkembang karena memberikan tempat pada pekerja medis. Seperti dikutip dari Guardian, Selasa (5/4/2011).

Mengapa AS tidak bisa memenuhi kebutuhan akan tenaga dokter? Apalagi, dokter di AS dibayar layak. Menurut Wolff, yang jadi masalah adalah biaya kuliah kedokteran di AS sangat mahal. Selain itu, menempuh pendidikan ini juga membutuhkan waktu yang panjang dan sulit. Seseorang yang baru bergelar dokter dan menjalani praktik, harus berutang sebanyak USD200 ribu (Rp1,7 miliar lebih). Dan tidak seperti menjadi pengacara dan bankir, yang tidak pernah mengalami kekurangan di AS, dokter di AS tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan gaji besar dalam waktu cepat untuk membayar semuanya kembali.

Jadi saat kita memandang iri atas prestasi yang dibuat universitas di AS, kita harus ingat bahwa tidak semua tampak seperti yang terlihat. Bahkan, sangat mungkin bahwa kelemahan sistem pendidikan tinggi AS ini berkontribusi atas terjadinya krisis kesehatan dan pembangunan yang terjadi di negara miskin dunia.  

Saturday, February 12, 2011

Woow� Inilah Mahasiswa Jenius Berumur 9 Tahun Asal Indonesia

March Boedihardjo, inilah prestasi yang luas biasa satu dari banyak mahasiswa keturunan Tionghoa yang lahir pada tahun 1998 di Hongkong. March Boediharjo dan keluarganya adalah orang Indonesia yang bermukim di Hongkong. Dan ketika tahun 2005, March dan keluarganya hijrah ke United Kingdom, ketika kakak laki-lakinya, Horatio Boediharjo yang saat itu berusia 14 tahun mendapat beasiswa di Oxford University, dalam program Phd, dan membuat ia menjadi salah satu siswa termuda di universitas itu.
Kedua anak keturunan Boediharjo ini memang menunujukantalenta lebih dalam bidang ilmu matematika, ayahnya memang sudah sejak kecil mengenalkan matematika kepada kedua anaknya ini, bahkan ketika makan pun yang mereka bicarakan adalah soal matematika. March menyelesaikan sekolah menengahnya di Inggris ketika ia dan keluarganya menemani kakaknya menempuh pendidikan di Ingris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik.
Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut. Ia juga mendapatkan 8 GCSEs dalam waktu yang sama dengan ketika ia mengikuti ujian A-level di Inggris. Setelah itu, ia pun mendaftarkan diri ke Baptist Hong Kong (HKBU), sebenarnya March sudah melamar ke beberapa universitas lain di Hong Kong. Di antaranya yaitu Universitas of Hong Kong, Hong Kong University of Science and Technology, dan Chinese University of Hong Kong. Namun, sayangnya universitas-universitas itu belum memberikan jawaban, aku ayah March.
Sebenarnya, March ingin menyusul kakaknya yang berusia 14 tahun yang melanjutkan pendidikan di Oxford University di Inggris, namun sayangnya keluarga mereka tidak punya cukup uang, waluapun ayahnya adalah seorang pengusaha karena biaya hidup di Inggris itu sangat mahal dan akhirnya March dan orang tuanya pun harus kembali ke Hongkong lagi meninggalkan kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di Oxford.
Ia mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). Di tahun-tahun pertamnya dia mengkritik bahwa pelajaran yang diajarkan terlalu mudah. Ia mendapatkan B+dan A- di hampir semua ujian matematika yang membuat ia masuk ke dalam daftar Dean, yaitu penghargaan bagi siswa yang memiliki IPK 3.00-3.49 dengan tidak ada nilai dibawah C. March juga akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun yaitu pada tahun 2010. Dia juga mengkritik bahwa ia tidak punya kesan baik terhadap rekan kuliahnya.
�Mereka tidak memberi tanggapan (di ruang kuliah). Mereka cuma mendengarkan dan satu sama lain tidak berinteraksi,� katanya.
Anak itu mengatakan rekannya di sekolah sebelumnya �ingin bermain�, tidak seperti mahasiswa perguruan tinggi.
Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya.�Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,�� kisahnya.
Seorang wartawan BBC di Hongkong, Vaudine England pernah mewawancarinya suatu saat dan ia berkata bahwa March Tian Boedihardjo tidak beda dengan bocah-bocah lain yang berusia 9 tahun, ia masih memiliki sisi kejenakaan khas anak-anak dan March juga mengaku bahwa selain ia hobi melahap dan mempelajari semua buku matematika miliknya, ia juga sangat senang bermain catur, monopoli, dan lego. (forum.vivanews.com)

Saturday, February 5, 2011

Apa yang Salah dengan Pendidikan Indonesia?

Pada akhir abad ke-20, para gubernur Amerika Serikat (AS) menyatakan, perang bukan lagi di medan pertempuran, tetapi di ruang kelas.

Tetapi, pertarungan di ruang kelas tersebut belum terwujud di Indonesia. Pasalnya, pemerintah kita bukan hanya berbohong, tetapi tidak menjalankan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Hal tersebut disampaikan Guru besar emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. H. Soedijarto, MA, dalam Diskusi Publik untuk Menganalisis Laporan ke Rumah Pengaduan Pembohongan Publik di Bidang Pendidikan yang diselenggarakan oleh Forum Rektor dan Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan bekerja sama dengan Ma'arif Institute, hari ini.

Soedijarto memaparkan, salah satu kebohongan yang dilakukan pemerintah adalah tidak memenuhi amanat pasal 31 ayat (2) UUD 1945. "Pasal tersebut menyiratkan kewajiban pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan. Tapi kenyataannya, mengapa pemerintah justru hanya memberikan bantuan melalui bantuan operasional sekolah (BOS), bukannya mengusahakan pendidikan gratis?" kata Soedijarto di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jumat, (4/1/2011).

Hal lain yang dijamin konstitusi adalah setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan sesuai minat dan bakatnya. Tapi yang terjadi, selain ada sistem pendidikan nasional, tiap daerah juga mengusahakan sistem pendidikan sendiri-sendiri.

"Lantas soal biaya pendidikan, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan nasional sekurang-kurangnya kita membutuhkan 20 persen dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN), bukan berarti mentok di angka itu. Tapi sebelumnya, pernahkah kita menghitung kebutuhan pendidikan?" ujar Soedijarto menggugat. 

Dia menyayangkan, tidak ada yang gelisah dengan permasalahan tersebut. Bahkan, para rektor pun hanya berdiam diri ketika pemerintah membolehkan perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP). Padahal, sudah menjadi kewajiban pemerintahlah menyediakan biaya pendidikan.

"Di seluruh dunia, anggaran perguruan tinggi mencapai satu persen pendapatan domestik bruto (PDB). Indonesia baru 0,3 persen PDB. Karena itulah PTN boleh menyelenggarakan BHP. Tapi kenapa rektor tidak menuntut pemerintah?" Soedijarto menegaskan.

Dia juga mengkritik, tidak ada satu pun elit politik mengatakan pendidikan itu penting. "Padahal, Deng Xiao Ping mengatakan, pemimpin yang tidak menguasai pendidikan tidak pantas memimpin," ujarnya menambahkan.

Sumber : http://kampus.okezone.com

Friday, December 10, 2010

Siswa SD Juara Belajar Entrepreneurship Di Kedai Juara




Untuk menumbuhkan jiwa enterpreneurship siswa, SD Juara Medan salah satu binaan Rumah Zakat meluncurkan Kedai Juara sebagai bagian dari program koperasi sekolah, Kamis (9/12). Sri Budiarti, Guru SD Juara Medan menyatakan, Kedai Juara adalah salah satu pembelajaran siswa SD Juara untuk menjadi penjual dan pembeli yang baik. Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan jajan siswa-siswi SD Juara.
Sri Budiarti menjelaskan, kedai Juara ini buka setiap jam istirahat dan dijaga oleh siswa Kelas III dan kelas IV. �Jika ingin berbelanja di kedai ini, konsumen harus membiasakan budaya antre dan sabar,� ungkapnya.
Menurutnya, konsumen yang tidak antre dan sabar tidak akan dilayani oleh penjaga kedai. �Jiwa enterpranership ditanamkan kepada pedagang dan kesabaran ditanamkan kepada para pembeli.�
Seperti Wira, salah satu penjaga Kedai Juara ini hanya melayani pembeli yang antri. Tak hanya melayani pembeli, Wira juga menjadi tauladan bagi para siswa SD Juara lainnya dengan mendapat predikat Anak Sholeh karena kesukaannya membaca Al-quran.
Pada awalnya Wira membaca Al-quran besar dan agak rusak. Namun, dia tidak malu dan tetap membaca Al-qurannya di waktu senggang. Terbukti dengan Al-quran sakunya, Wira lebih giat membaca Al-quran.
Hal ini juga bisa terlihat saat siswa kelas IV ini menjadi penjaga Kedai Juara. Walaupun diberi tanggung jawab menjaga koperasi sekolah, ia memanfaatkan waktu dengan membaca Al-quran saat menunggu pembeli.
Sri Budiarti menambahkan, kebiasaan ini juga menjadi salah satu teladan untuk siswa-siswi SD Juara yang lain. "Alhamdulillah karena predikatnya sebagai Anak Sholeh, sekolah menghadiahkan Al-quran saku untuknya sehingga lebih praktis untuk dibaca di mana pun," ujarnya.