Latest News

Showing posts with label Pendidikan Usia Dini. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Usia Dini. Show all posts

Friday, April 29, 2011

Kesulitan Anak-anak Autis Terbawa Sampai Remaja


 


Penelitian American Academy of Neurology melibatkan 24 anak perempuan dan laki-laki berusia antara 12 dan 16 tahun. Separuh dari kelompok itu mengalami gangguan spektrum autisme dan semua remaja itu mendapat penilaian dalam kisaran normal untuk penalaran persepsi pada tes IQ.

Pengujian dilakukan dengan meminta para remaja itu menyalin kata-kata dalam contoh kalimat dengan persis baik ukuran maupun bentuk hurufnya dengan menggunakan tulisan tangan.

Penilaian tulisan tangan itu berdasarkan lima kategori: tingkat keterbacaan, bentuk, kerapian (lurus), ukuran dan spasi. Kemampuan motorik mereka, termasuk keseimbangan dan gerakan, juga diuji dan diberi nilai.

Penelitian ini menemukan remaja autis mendapatkan 167 poin dari total kemungkinan 204 poin pada penilaian tulisan tangan, dibandingkan dengan 183 poin untuk remaja dalam kelompok non-autis.

Hasil menunjukkan signifikansi secara statistik dalam studi tersebut. Para remaja autis itu juga memiliki gangguan keterampilan motorik.

Kinerja tulisan tangan pada remaja autis diprediksi oleh skor penalaran persepsi, yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk melakukan penalaran melalui masalah dengan materi nonverbal.

"Keterampilan penalaran dapat memprediksi kinerja tulisan tangan ini menunjukkan adanya sebuah strategi yang dapat dilakukan remaja autis untuk belajar dan menggunakan strategi kompensasi untuk mengatasi kekurangan motorik," kata penulis studi, Amy Bastian, dari Kennedy Krieger Institute dan Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore.

"Meski remaja autis lebih mungkin memiliki masalah tulisan tangan, ada beberapa teknik untuk meningkatkan kualitas tulisan tangan mereka, seperti menyesuaikan pegangan pensil, menstabilkan tangan yang menulis dengan tangan lainnya atau menuliskan huruf lebih lambat. Terapi ini bisa membantu remaja autis untuk mencapai kemajuan akademis dan berkembang secara sosial," kata Bastian. *
 

Tuesday, April 5, 2011

Nama, Hadiah Pertama Si Kecil

 Menanti sang buah hati adalah salah satu pengalaman menyenangkan sekaligus mendebarkan bagi calon orangtua. Termasuk memilih nama yang tepat bagi si kecil. Memilih nama memang menyenangkan, meski kadang membuat orangtua bingung. Pasalnya, nama adalah hadiah pertama yang diberikan bagi sang buah hati yang akan digunakan selamanya. Sebaiknya proses mencari nama untuk calon bayi jangan hanya sembarangan dan asal pilih saja.

Nama merupakan persoalan penting. Meskipun William Shakespeare mengatakan,�What�s in the name, a rose is a rose�. Apalah artinya sebuah nama, setangkai mawar tetaplah mawar yang harum mewangi.

Pemilihan nama yang tidak biasa atau unik memang semakin banyak dilakukan oleh para pasangan muda saat ini. Tengok saja pasangan Chris Martin dan Gwyneth Paltrow yang menamakan putrinya, Apple. Tak kalah unik, pasangan Arthur Ashe dan Jeanne Moutoussamy menamai anaknya, Camera. Nama Fuchsia menjadi pilihan Sting dan Trudie Styler untuk putrinya.

Dari pasangan selebritis Indonesia juga dapat ditemukan nama unik. Pasangan Melly Goeslaw dan Anto Hoed juga memilihkan nama unik bagai kedua putranya. Putra pertama pasangan ini dinamai Anakku Lelaki Hoed. Nama putra kedua pasangan Melly dan Anto juga tidak kalah unik yaitu Pria Bernama Hoed.

Selain itu, artis sinetron Lucky Hakim menamai putri pertamanya, Nokia Alike Putri Hakim. Yang artinya, bintang penghubung nan cantik. Dia menuturkan, ingin agar Nokia bisa menjadi penghubung ayah dan ibunya kelak. "Kami mengambil nama Nokia bukan karena merek handphone, tetapi Nokia diambil dari bahasa Italia yang punya arti bintang penghubung," jelas Lucky.

Menurut Penulis buku best seller Baby Name Book in the world, Bruce Lansky, beberapa orangtua menyesuaikan dengan memberi nama yang umum namun dimodifikasi dari pengucapapan atau ejaannya.

�Bahkan beberapa orangtua berusaha untuk mencari nama baru yang diperoleh dari tempat-tempat yang jauh,� ujar Lansky yang baru-baru ini merilis buku terbarunya Baby Names Around the World.

Dia menuturkan, saat ini perbedaan gender tidak lagi menjadi persyaratan mutlak untuk pemberian nama. Lansky mengungkap, tren yang terjadi ialah anak perempuan seringkali diberi nama yang biasanya diberikan nama anak laki-laki.

�Kini terdapat nama-nama yang dapat digambarkan sebagai nama androgini, yaitu nama yang dapat digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan. Misalnya, nama seperti Terry, Chris, Dana dan Cameron,� paparnya.

Lansky menyarankan, untuk memilih nama anak sebaiknya kembali ke latar belakang yang paling fundamental, yang biasanya merupakan kebalikan dari pemberian nama sesuai tren.

�Pilihlah nama yang paling mudah diingat dan mudah diucapkan. Kemudian, pilihlah nama yang memiliki image positif dan tidak mudah untuk diejek. Serta, pilihlah nama panggilan yang disukai oleh orangtua,� saran Lansky.

Lebih baik berbagi pendapat dalam keluarga mengenai nama yang akan dipilih. Kemudian lihatlah respon ketika mereka mendengar nama tersebut.

�Pilihlah nama yang mendapat respon positif dibandingkan gumaman yang tidak senang,� tukas Lansky. (ri)

Tips Memilih Nama

Ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan sewaktu orangtua memilih dan menentukan nama bayi, antara lain: Pilihlah nama yang terdengar indah sewaktu diucapkan dan serasi dengan nama keluarga Anda, bila menggunakan nama keluarga dibelakang nama si kecil kelak.
 
Memilih nama yang unik tetap bagus asalkan tetap indah didengar, serasi dan mudah diucapkan. Unik tidak berarti menjadi nama yang terdengar aneh atau sulit diucapkan. Memilih nama yang mengandung makna dan arti yang positif untuk kehidupan. Salah satu hal yang penting, jangan memberi nama yang mengandung arti dan makna buruk. Ingat nama tersebut akan dibawa selamanya oleh anak Anda. Pilihlah nama yang mudah untuk mengambil nama singkat atau panggilan sehari-hari. Juga pilihlahnama yang mudah untuk diucapkan. Pertimbangkn untuk memilih nama yang menunjukkan jenis kelamin yang jelas. Meskipun tengah tren memberikan nama yang dapat digunakan untuk pria dan wanita, sebaiknya Anda pertimbangkan lagi. Tampunglah semua ide-ide nama yang ada dengan suatu daftar, bisa dari majalah, tv, atau keluarga dan teman Anda. Sebaiknya jangan membiarkan siapapun memaksa untuk memberikan nama yang Anda tidak suka. Diskusikan bersama pasangan untuk memberi nama yang terbaik bagi si buah hati. Yangterpenting ialah kedua orangtua memilih dan memutuskan nama bayi yang disukainya. (ri) 
 

Mama Papa, Lihat Langkah Pertamaku!

Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan pembelajaran, penjelajahan, dan perkembangan baik motorik maupun kognitif. Orangtua seringkali lupa betapa berat usaha yang harus dilakukan si kecil dalam mencoba melakukan segala sesuatu. Mulai dari menggerakkan tubuh, merangkak, berdiri hingga melangkahkan kaki di lantai yang serasa bergoyang.

Menurut Penulis Baby Steps, Claire B.Kopp dan Henry Holf, gerakan sangat penting untuk memungkinkan anak tumbuh. Gerakan adalah kunci pembelajaran bayi dan sangat penting untuk perkembangan otak.

Dengan menggunakan gerakan seluruh tubuhnya dan seluruh panca inderanya, si kecil �memprogram� alat gerak dan penerimaannya, saraf dan sel-sel otak.

Dalam publikasi yang mengulas filosofi dan praktik metode Montessori berjudul �The First Year�Crawling, Pulling Up, Standing�, dikatakan salah satu pencapaian paling menggetarkan untuk seorang anak adalah belajar menggerakkan tubuhnya untuk meraih objek yang diinginkan.

Bayi punya beberapa cara untuk melakukannya, yaitu dengan merangkak, mundur, tengkurap, menyamping, merayap, berguling, serta mengangkat perut dengan lengan dan kaki. Belajar menggerakkan tubuh inilah yang disebut �pekerjaan penting�.

Sebagian orangtua merasa senang jika anaknya mengalami perkembangan yang cepat seperti proses berjalan. Sebagian kita merasa senang jika bayi langsung belajar berjalan tanpa merangkak dulu. Padahal, merangkak itu penting buat bayi.

Dokter anak, chiropractor dan anggota International Chiropractor Association asal Amerika Serikat, Peter Fysh mengatakan, merangkak menuntut pemakaian kaki dan tangan yang berlawanan secara simultan.

Mulai dari menggerakkan tangan kanan dengan kaki kiri, diikuti tangan kiri dengan kaki kanan dan seterusnya, dalam gerakan timbal-balik. Tiap gerakan semacam itu menuntut pemakaian kedua belahan otak kiri dan kanan dalam sebuah koordinasi neurologis yang kompleks.

Berjalan terlalu dini atau  merangkak terlalu singkat sebelum mulai berjalan diduga berhubungan dengan masalah akademis di belakang hari.

�Penelitian terhadap anak-anak yang digolongkan �berjalan terlalu dini� menunjukkan bahwa mereka meraih skor  lebih rendah dalam berbagai tes prasekolah,� kata Dr. Fysh.

Spesialis Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang, Dr Soedjatmiko, SpA(K) MSi mengatakan, saat anak bebas bergerak maka akan merangsang kecerdasan bayi mengkoordinasikan gerakan lengan, kaki sehingga terarah sesuai keinginannya.

�Semakin terampil merangkak dan berjalan maka semakin bebas bergerak sehingga anak semakin percaya diri, merasa tidak tergantung pada orang lain untuk berinteraksi dengan lingkungan,� tutur Soedjatmiko.

Dia menambahkan, semakin mudah mereka mengeksplorasi lingkungan, berinteraksi dengan banyak benda dan lingkungan baru, sehingga pengetahuan, pengalaman dan kecerdasannya akan bertambah.(berbagai sumber/ri)

Tahapan Tumbuh Kembang Si Kecil (0 - 24 bulan)

0 - 3 Bulan
  • Belajar mengangkat kepala.
  • Mengikuti obyek dengan matanya.
  • Melihat muka orang dan tersenyum.
  • Bereaksi terhadap suara/bunyi.
  • Mengoceh spontan.
3 - 6 bulan
  • Mengangkat kepala 90 derajat.
  • Berusaha meraih benda-benda.
  • Menaruh benda-benda di mulut.
  • Tertawa atau menjerit bila diajak bermain.
  • Berusaha mencari benda-benda yang hilang.
6 - 9 bulan
  • Mulai tengkurap dan berbalik sendiri.
  • Dapat duduk tanpa dibantu.
  • Dapat merangkak, meraih benda atau mendekati seseorang.
  • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain.
  • Memegang benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk.
  • Mengeluarkan kata-kata tanpa arti.
  • Takut kepada orang lain.
  • Berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan dan sembunyi-sembunyian.
9 - 12 bulan
  • Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu.
  • Dapat berjalan dengan dituntun.
  • Menirukan suara.
  • Mengulang bunyi yang didengar/belajar mengatakan satu atau dua kata.
  • Mengerti perintah/larangan sederhana.
  • Selalu mengeksplorasi dan memasukkan semua benda ke mulutnya.
  • Berpartisipasi dalam permainan.
Sumber : Republika.co.id

Memilih Sepatu Untuk Pertumbuhan Kaki

Kerangka kaki anak yang masih berkembang mengikuti pertumbuhkan umur dan aktivitas, membutuhkan alas kaki yang tepat. Jelas berbeda dengan kebutuhata orang dewasa yang struktur kakinya sudah terbentuk.

Kaki manusia dewasa terdiri dari 26 tulang yang bekerjasama menggerakkan kaki hingga bisa beradaptasi bahkan terhadap permukaan jalan yang tidak rata. Tulang-tulang itu juga bertindak sebagai peredam getar pada setiap langkahnya.

Pembentukan tulang kaki sebagai proses yang rumit dan memerlukan waktu yang lama. Pada bayi yang baru lahir, kaki terdiri dari tulang lunak yang sangat lembut.

Tulang lunak perlahan akan berubah menjadi tulang yang sebenarnya sejalan dengan pertambahan usia anak. Tulang yang keras dan sempurna pada kaki baru benar-benar terbentuk sekitar usia 18 tahun.

Menurut Children�s Foot Health Register, sekitar 70% gangguan pada kaki disebabkan oleh penggunaan sepatu yang tidak tepat atau ukuran sepatu yang tidak akurat di masa anak-anak.

Padahal gangguan pada kaki tidak dapat dipandang sebelah mata. Seperti sebuah rumah, kaki adalah pondasi dari keseluruhan tubuh. Kelainan pada pertumbuhan dan bentuk kaki juga dapat berdampak buruk pada tubuh yaitu antara lain postur dan cara berjalan anak yang bisa terus terbawa hingga dewasa.

Kaki anak memiliki tulang yang masih lembut dan sensitif. Selain itu, kaki anak juga sangat cepat pertumbuhannya. Para ahli medis spesialis kaki (podiatrist) sangat menganjurkan para orangtua untuk memastikan ukuran sepatu anak pada saat membeli, baik ukuran panjang maupun lebarnya. Pada usia balita, idealnya pengecekan ukuran sepatu dilakukan setiap enam sampai delapan minggu.

Podiatrist dari Glasgow Caledonian University Gordon Watt mengatakan, orangtua masih banyak yang kurang mewaspadai masalah yang berhubungan dengan perkembangan kaki.

�Kewaspadaan terhadap masalah yang dapat diakibatkan oleh terhambatnya perkembangan kaki anak, seharusnya dapat mendapatkan konsultasi dari podiatrist untuk meningkatkan kesehatan kaki anak,� ujar Watt.

Oleh karena itu, diperlukan sepatu yang tepat untuk dapat mendukung perkembangan kaki anak. Saat anak mulai dapat berjalan, sebaiknya mulai dibiasakan mengenakan sepatu. Selain berguna untuk membentuk kaki yang ideal dan normal, juga agar anak dapat langsung belajar mengatur jatuhnya titik berat tubuh pada posisi yang benar.

"Manfaat sepatu juga untuk menjaga pertumbuhan serta rotasi tulang tungkai. Lebih baik jika anak mulai mengenakan sepatu sejak usia 1,5-7 tahun,� terangnya.

Ukuran sepatu anak akan mengalami perubahan bisa sampai 34 kali. Hingga anak menjelang umur 10 tahun. Setelah itu, perlu menunggu sampai usia 18 tahun, agar berkembang sepenuhnya menjadi kaki dewasa. Mulai umur 18 tahun, ukuran sepatu anak mulai sedikit sekali mengalami perubahan.
           
Faktor penting yang harus dimiliki sepatu anak antara lain kemampuan mendukung struktur kaki anak yang sangat beragam, sol yang lunak tapi aman, bantalan atau cushion yang empuk tapi tidak licin, serta ruang kaki dimana ujung jari kaki dapat bebas. (feetforlife.org/ri)

 Sumber : Republika.co.id

Bayi Lahir Alami Lebih Dekat dengan Ibu

Secara alami, ibu dan anak memiliki keterikatan (bonding) yang istimewa. Sebuah penelitian membuktikan, bayi yang dilahirkan secara normal memiliki keterikatan yang lebih tinggi dibandingkan yang dilahirkan melalui operasi caesar.

Pasalnya, ibu yang melahirkan bayi secara alami akan menyebabkan respon menangis lebih tinggi dari ibu yang memilih melahirkan secara caesar. Demikian fakta yang ditemukan para peneliti di Amerika.

Scan otak yang dilakukan terhadap 12 ibu yang baru melahirkan, ditemukan aktivitas yang menghubungkan motivasi dan emosi pada saat melahirkan secara alami.

Tim dari universitas Yale mengatakan, perbedaan hormon yang dihasilkan dalam proses kelahiran dapat menjadi kunci.

Kontraksi merupakan bagian terpenting untuk memicu produksi hormon Oksitosin ketika melahirkan secara alami dan juga mempunyai peran kunci untuk membentuk prilaku keibuan. Kelahiran secara caesar tidak akan memicu produksi hormon yang sama.

Tim Yale kemudian mendapatkan hasil scan otak dari 12 orang wanita dua atau empat minggu setelah mereka melahirkan-yang dikenal dengan periode postpartum awal. Setengahnya melahirkan secara caesar dan setengahnya lagi secara alami.

Perbedaan dalam aktivitas otak telah ditemukan tidak hanya berpengaruh terhadap respon ibu terhadap anak tapi juga menciptakan mood ibu.

Ketua Tim peneliti, DR James Swain mengatakan, penelitian yang dilaporkan dalam jurnal psikologi anak dan psikiatri itu diharapkan akan menciptakan keterikatan batin antara ibu dan anak.

"Hasil yang penelitian akan mendukung teori bahwa perbedaan kondisi melahirkan pada saat caesar atau alami
akan mempengaruhi tingkat respon yang terbentuk dalam otak setelah melahirkan,"ujarnya.

Profesor James Walker, pembicara untuk the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists mengatakan, pihaknya telah lama mengenali wanita yang melahirkan secara caesar mempunyai masalah dengan keterikatan dengan bayi mereka.

Bagaimanapun, Walker menambahkan, alasan masalah ini tidak selesai karena ada hubungan antara kesulitan ketika persalinan membuat melahirkan secara caesar menjadi pilihan utama.

Studi terakhir diperoleh hanya satu wanita yang tidak memilih melahirkan secara caesar dari enam orang yang melahirkan, tapi profesor Walker mengatakan, terdapat pengaruh karakteristik personal spesifik dari keluarga yang membuat kelahiran alami semakin sulit.

Dia menambahkan, ada kemungkinan bahwa wanita yang melahirkan secara caesar lebih cepat proses persalinan ketimbang yang memilih secara alami.

Tidak adanya studi menyeluruh memperkirakan bahwa ibu yang memilih melahirkan secara caesar akan mengalami masalah keterikatan dengan bayi mereka.

"Tidak diragukan bahwa kebanyakan wanita yang memilih caesar tidak bisa menjadi ibu yang sempurna," katanya.

The National Childbirth Trust, Belinda Philips mengatakan, keterikatan antara ibu dan bayi adalah sangat penting dan respon dari bayi ketika menangis menjadi pelengkap naluri keibuan.

"Wanita yang memilih caesar harus mememluk anaknya yang baru lahir untuk bersentuhan langsung dengan kulit si bayi dan membantu memberi makan dan perawatan untuk bayi mereka," tuturnya.

Antara 10% dan 20% dari keseluruhan bayi di Inggris lahir secara caesar. Kecenderungan peningkatan kelahiran melalui operasi itu juga terjadi di Indonesia terutama kota besar. Penelitian semacam itu sebaiknya menjadi perhatian para wanita untuk lebih memilih melahirkan secara alami. 
 

Apa Sih, Dampak Anak di Depan Komputer/TV Tak Lebih dari Dua Jam?

Apa Sih, Dampak Anak di Depan Komputer/TV Tak Lebih dari Dua Jam?
Makin jarang, wanita yang ingin punya anak di AS

Selama lebih dari dua jam sehari menonton televisi ataupun bermain "video game" di komputer dapat memberikan risiko yang lebih besar bagi anak-anak pada masalah kejiwaan apapun tingkat aktivitas mereka, demikian menurut sebuah penelitian di Inggris pada Selasa.

Para peneliti dari Universitas Bristol meneliti lebih dari 1.000 anak kecil yang berumur sepuluh hingga 11 tahun. Selama lebih dari tujuh hari, mereka mengisi kuesioner yang menanyakan intensitas waktu yang mereka habiskan sehari-hari di depan televisi atau komputer dan menjawab pertanyaan yang menjelaskan keadaan jiwa mereka, termasuk emosi, tingkah laku, dan masalah yang bersangkutan lainnya sementara sebuah pengukur tingkah laku (accelerometer) memantau aktivitas fisik mereka.

Jumlah selisih kerumitan kejiwaan secara signifikan sebanyak sekitar 60 persen lebih tinggi bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam selama satu hari di depan salah satu layar tersebut, dibandingkan dengan mereka yang menonton pada waktu yang lebih sedikit, kata laporan para peneliti di dalam jurnal Pediatrics.

Angka selisih tersebut menjadi berlipat bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam di depan kedua jenis layar tersebut selama sehari.

Para peneliti menemukan hasil ini tanpa memerhatikan jenis kelamin, umur, tingkat pubertas, atau tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi dan tidak memantau keaktifan anak tersebut selama sisa harinya.

"Kami mengerti aktivitas fisik baik bagi kesehatan jiwa dan tubuh pada sang anak dan terdapat beberapa bukti bahwa menonton layar itu mengakibatkan kelakuan yang negatif," ujar Dr. Angie Page kepada Reuters Health. "Namun hal itu masih belum jelas apakah tingkat aktivitas fisik akan "mengimbangi" tingginya tontonan pada layar itu bagi anak kecil."

Para peneliti menemukan masalah kejiwaan jauh meningkat jika anak kecil mengalami pelatihan sehari-hari mulai dari tingkat yang sedang hingga ketat selama kurang dari satu jam atas meningkatnya tontonan pada layar itu.

Bagaimanapun, aktivitas fisik tidak hadir untuk mengimbangi konsekuensi kejiwaan pada waktu tontonan layar itu.

Para peneliti mengatakan waktu yang tetap juga tidak berhubungan dengan mental kelakuan yang baik. "Tampaknya lebih kepada apa yang kamu lakukan pada waktu tetap itu yang menjadi penting," ujar Page, menjelaskan kurangnya dampak negatif ditemukan pada kegiatan seperti membaca dan melakukan pekerjaan rumah.

Page dan tim penelitinya mengakui beberapa keterbatasan pada penelitiannya, termasuk potensi ketidak-akuratan seorang anak sewaktu mengisi jadwal kegiatan pada kuesioner.

Sumber :http://www.republika.co.id/

Masih Adakah Dongeng Sebelum Tidur?

Masih Adakah Dongeng Sebelum Tidur?

Aktivitas keluarga modern yang dinamis segera memunculkan polemik baru. Salah satunya yaitu punahnya tradisi membacakan cerita kepada anak-anak menjelang tidur.

Sebagian besar orang tua modern condong memiliki kegiatan begitu banyak sehingga tidak memungkinkan untuk membacakan cerita kepada anak-anak mereka.

Sebuah survei di Inggris menyebutkan hanya 60 persen anak-anak yang kini dewasa mengaku pernah dibacakan cerita oleh orang tua mereka. Sekarang, hampir 50 persen orang tua hanya mematikan lampu dan menutup pintu ketika waktu tidur anak-anak tiba.

Hasil survei lainnya disebutkan pula orang tua mengaku sulit untuk menyisihkan sedikit waktu demi membacakan cerita kepada anak-anak mereka sebagai pengantar tidur. Survei yang digagas Talktalk, sebuah perusahaan telekomunikasi di Inggris juga menyebutkan hanya 52 persen orang tua yang membaca cerita sebelum anak-anak mereka tidur.

Sisanya 48 persen mengatakan kehidupan mereka terlalu sibuk untuk bercerita. Namun, delapan dari sepuluh yang disurvei setuju bahwa perkembangan anak bisa ditingkatkan dengan membaca tidur.

Tahun lalu, pemerintah Inggris mengkhawatirkan kondisi itu dengan meminta orang tua di Inggris agar menyediakan waktu kepada anak-anak mereka untuk bercerita. Pemerintah Inggris melihat Wales, East Anglia dan Skotlandia merupakan wilayah Inggris Raya yang paling tidak mungkin meneruskan tradisi bercerita. Sementara Pemerintah Inggris masih menyimpan harapan kepada orang tua di London, West Midlands Barat dan Utara untuk meneruskan harapan tersebut.

Lantas bagaimana dengan Indonesia, apakah dongeng Bawang Putih dan Timun Mas suatu saat tinggal kenangan?

Sumber : Republika.co.id

Inilah Alasan Mengapa Tidur Cukup Penting bagi Anak-anak

Inilah Alasan Mengapa Tidur Cukup Penting bagi Anak-anak
tidur penting bagi anak-anak


Kurang tidur membuat anak-anak lelah, rewel, dan "kurang beruntung" di sekolah.

Penelitian menunjukkan anak-anak perlu tidur untuk perkembangan otak dan kesehatan. Berikut alasannya:

� Para ilmuwan mengetahui bahwa anak-anak menghabiskan banyak waktu lebih dari orang dewasa menuju apa yang disebut rapid eye movement (REM) dalam tidur, yang merupakan tahap mimpi dari siklus tidur. Bayi menghabiskan waktu sekitar delapan jam dalam tidur REM; dewasa muda menghabiskan waktu sekitar 90 menit dalam tidur REM. Tidur REM adalah waktu yang penting untuk aktivitas otak. Otak tetap aktif selama siklus mimpi seperti  ketika kita terjaga. Para ilmuwan menganggap semua kegiatan ini berhubungan dengan plastisitas saraf - pertumbuhan dan perubahan sel-sel otak - dan percaya bahwa tidur REM memberikan kesempatan untuk pertumbuhan dan perubahan.

� Dalam sebuah studi di Amerika terhadap anak-anak berusia 10 sampai 14 tahun, peneliti membatasi mereka tidur hanya lima jam. Keesokan harinya, baik pemikiran abstrak dan kreativitas mereka (sebagaimana diukur dengan tes standar) mengalami penurunan sementara. Satu studi anak-anak Israel sembilan sampai 12 tahun, dirilis pada tahun 2003, menunjukkan bahwa tidur anak yang disunat satu jam berdampak negatif terhadap jumlah yang mereka bisa ingat dalam tes standar, kata Avi Sadeh, penulis penelitian dan seorang profesor di departemen psikologi di Tel Aviv University.

� Kurang tidur pada anak-anak dimulai selama tahun-tahun sekolah, kata Sadeh. Studinya anak usia sekolah Israel (dari kelas 2, 4 dan 6) dalam 200 menemukan bahwa siswa kelas 6 tidur satu jam lebih sedikit daripada anak-anak muda dalam penelitian dan melaporkan angka jauh lebih tinggi dari kantuk di siang hari. "Perilaku tidur anak yang lebih tua mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan fisiologis mereka," ia menyimpulkan, dan dia memperingatkan bahwa anak-anak berisiko kurang tidur kronis.

� Sebuah studi di Italia dalam sebuah ruang gawat darurat atas anak laki-laki pada tahun 2001 menunjukkan hubungan antara risiko cedera dan tidur kurang.

� Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup tidur juga bisa menunjukkan tanda-tanda gangguan hiperaktif, dan aktivitas lebih. "Jika Anda memiliki anak yang memiliki masalah perhatian, impulsif, hiperaktif atau masalah perilaku lain, Anda harus memeriksa masalah tidur," kata Dr Judith Owens, direktur klinik gangguan tidur anak di Hasbro Children's Hospital di Kanada. Meskipun hiperaktif tak sepenuhnya disebabkan oleh kurang tidur, tidur lebih adalah hal pertama yang disarankan oleh dokter untuk mengobati kondisi ini.

Sumber : Republika.co.id

Si Buyung Mulai Kecanduan Internet? Begini Lho Bu, Cara "Mengawal"-nya

venturebeat.com
Si Buyung Mulai Kecanduan Internet? Begini Lho Bu, Cara
Ilustrasi
Mengakses internet sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak. Bahkan, anak SD sekalipun sudah banyak yang menjadi penjelajah dunia maya. Nurlina Purbo, salah seorang pendiri Kelompok Remaja Melek IT (KeRMIT), memaparkan rambu-rambu berinternet yang harus diperhatikan orang tua:

* Sesuaikan pengawasan yang diberikan dengan usia anak.

* Di usia TK, anak hanya sebatas melihat dan menerima penjelasan tentang hal-hal yang ingin diketahuinya. Orang tua harus mencarikan informasi dan membukakan lamannya.

* Pada usia SD dan SMP, anak dapat browsing secara mandiri. Namun, beri batasan apa saja yang boleh dikunjunginya. Orang tua mesti berada di samping anak untuk mendampinginya berselancar di world wide web.

* Bekali anak dengan pegangan moral. Inilah yang akan memagari mereka dari keburukan yang mungkin ditemuinya saat browsing.

* Berikan aturan yang jelas. Pastikan anak memiliki batasan waktu maupun budget untuk mengakses internet. Rambu inilah yang dapat mengawal anak yang sudah remaja ketika memanfaatkan internet di kesehariannya.

Jika diperlukan, pasang parental software. Ada filter Asusila yang direkomendasikan Kementerian Kominfo, Ubuntu Muslim Edition, atau Blankon Sajadah yang bisa Anda unduh secara cuma-cuma.

Tuesday, March 29, 2011

Murid TK Dubai Diajari Menjaga Aurat



 
Hidayatullah.com--Sekolah Menengah Moderen Dubai mengajarkan murid-muridnya di kelas taman kanak-kanak untuk menjaga tubuh mereka, termasuk bagian paling pribadi, dengan cara menutupi, menjaga kebersihan dan keamanannya.

Dalam selebaran yang dibagikan, dikatakan bahwa sesi "keamanan pribadi" akan diadakan secara bergantian di ruang-ruang kelas bagi murid taman kanak-kanak. Bagian pertama pertemuan itu akan mengajarkan anak tentang keamanan diri.

"Alasan mengapa sebagian tubuh ditutupi adalah karena itu merupakan bagian yang sangat penting, sangat peka dan bisa terluka jika tidak ditutupi. Misalnya: mengapa jantung itu tersembunyi ... itu mengapa alat kelamin/bagian-bagian pibadi ... juga ditutupi," tulis selebaran itu.

Di situ juga tertulis, nama-nama alat kelamin disebutkan secara jelas untuk mengurangi kecanggungan atas bagian-bagian tubuh yang intim. Mitos yang menyebut bahwa bagian-bagian intim itu  adalah "memalukan" dan "menjijikkan" juga dijernihkan.

Aman dan tidak aman

Anak-anak diajarkan bahwa bagian intim dari tubuhnya boleh disentuh hanya ketika mandi dan selesai buang hajat, oleh orangtua, guru atau pengasuh lainnya seperti perawat dan bibi mereka.

Anak-anak juga diajarkan untuk tidak pernah telanjang bulat di depan orang selain mereka (orangtua, guru dan pengasuh) dan tidak menunjukkan atau menyentuh organ intimnya meskipun saat bermain.

Metode yang digunakan untuk menjelaskan masalah tersebut antara lain lewat boneka, permainan peran dan diskusi. Sentuhan yang aman dan tidak aman dibicarakan. Sentuhan aman misalnya tepukan di punggung, tos tangan, dan bersalaman. Sedangkan sentuhan yang tidak aman misalnya tepukan atau sentuhan di pantat, dada, ciuman di bibir dan menggelitik.

Di bagian tubuh mana anak-anak disentuh dan "apa rasa yang ditimbulkan dari sentuhan itu" juga dibicarakan. Hal itu untuk menjelaskan mana sentuhan yang aman-aman saja dan mana yang tidak.

Dalam catatan untuk orangtua yang terdapat dalam selebaran ditulis, jika anak mengalami sentuhan yang tidak aman, maka mereka harus berkata "hentikan--saya tidak suka" dengan suara keras dan menjauh dari keadaan yang demikian, serta segera memberitahukan orangtua, guru atau orang dewasa lain yang ada di sekitarnya.

Menurut Dr R. McCarthy, psikolog di Klinik Konseling dan Perkembangan di Dubai, secara umum anak usia taman kanak-kanak terlalu muda untuk pelajaran seks, yang jika diajarkan bisa merusak keluguan mereka. "Kita harus berhati-hati dalam mengajarkan mereka tentang apa yang aman dan yang tidak," ujarnya.

Pada pertengahan Januari lalu, orangtua seorang siswa berusia empat tahun menduga anaknya mendapatkan pelecehan seks dari sopir bus sekolah dan dua kondekturnya. Kasus ini menjadi salah satu latar belakang mengapa anak-anak TK itu diajarkan untuk menjaga aurat mereka.*
 
Sumber :http://www.hidayatullah.com/

Tuesday, March 15, 2011

Cerdas Bagi Pendidikan Anak

Masih ingat dengan novel yang berjudul Laskar Pelangi? novel best seller yang ditulis oleh Andrea Hirata. sebuah kisah novel yang cukup menarik perhatian kita saat ini... bukan hanya cerita, tetapi juga banyak pesan yang dibawa... Apalagi saat diangkat dalam layar lebar disutradarai oleh Riri Riza, dan mendapat perhatian cukup banyak dari kaum muda.

Salah satunya adalah pendidikan di Indonesia. Potret sebuah sekolah yang sederhana, jauh dari kemewahan dan Ukiran prestasi yang bergengsi, tapi pendidikan yang tercermin bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan saja, melainkan sebuah perilaku dan etika, sehingga tumbuh sebuah kreatifitas yang bukan karena fasilitas.

Saat ini sebagian orang tua memimpikan investasi manusia pada pendidikan untuk masa depan anaknya. Biar jadi pengusaha, Dokter, atau semua yang secara sosial terpandang dan mempunyai harkat dan martabat secara financial.

Ada yang lebih mendasar di tawarkan dalam laskar pelangi ini, yaitu Budi pekerti.

Negara ini mungkin lupa, atau terpesona akan pendidikan metoda luar (barat), sehingga tidak diliriknya pendidikan yang telah di rintis pendahulu kita, Seperti Ki Hadjar Dewantara, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Dalam karya mereka terbentuklah Taman Siswa, Muhammadiyah. Beliau-beliau ini telah mencoba merintis pendidikan yang mengajarkan akan budaya timur, sepert budi pekerti, etika, sopan santun pada anak bangsa negeri ini.

Saat ini tidak jarang kita temui siswa yang pandai, tetapi tidak punya tata krama dan etika, atau malah di tidak tahu sopan santun.

Meskipun hal ini bukan hanya tugas dari sekolah, untuk memberikan bekal bagi anak kita, tetapi juga peran keluarga diperlukan dalam hal ini. Waluapun saat ini jumlah keluarga yang menanamkan pendidikan Budi Pekerti sudah mulai "tidak sempat", sehingga melimpahkan semua ke sekolah. Sedangkan sekolah juga di tuntut tidak hanya mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga untuk menjadikan sekolah sebagai sekolah favorit, yang diharapkan akan menunjang keberlangsungan dan kesejahteraan Sekolah.

Bila kita sedikit saja melirik pendidikan di Jepang, dimana pendidikan tidak hanya dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga tetap di berikan pendidikan budi pekerti dan pengetahuan budaya mereka. Sehingga mereka tetap mencintai dan juga mengerti asal mereka dengan budaya nenek moyangnya.

Pendidikan tidak hanya mengedepankan kecerdasan Intelektual tetapi juga Kecerdasan Moral, Spiritual dan Emosional.

Terkadang kita ataupun orang tua beragapan kecerdasan yang maksud adalah kemampuan anak dalam berhitung, mengahafal, meniru, pandai dalam membuat analisa yang dibuktikan pada prestasi di sekolah. Meskipun pemahaman ini tidak salah, namun juga kurang lengkap. Cerdas yang dimaksud adalah kemampuan anak dalam mengorganisir dengan baik aspek Intelektual, Emosional, Moral dan Spiritual.

Kecerdasan Intelektual , merupakan kemampuan seseorang secara efektif untuk melakukan perhitungan matematis, menganalisa, mengingat, dan beragumen. Sehingga pada umumnya, sang anak akan berhasil menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan baik.

Kecerdasan Emosional , merupakan kemampuan seseorang untuk mengelola dan memanfaatkan perasaan dengan baik. Seperti memahami orang lain, kemandirian, kerjasama, menyesuaikan diri dan berpikir positif. Tentunya hal ini dipengaruhi juga oleh kepribadian yang sehat.

Kecerdasan Moral , merupakan kemampuan seseorang yang peka dan mampu menentukan baik dan buruk. Seperti kejujuran, kerelaan menolong, kesetiakawanan, kepedulianan, kesederhanaan dan adil.

Kecerdasan Spiritual , merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengembangkan nilai-nilai yang mulya, seperti: kasih, kebenaran, ketaquan, ketaatan, pelayanan, pengabdian dan pengorbanan. Jadi kecerdasan Spiritual bukan saja ketaatan dalam menjalankan hukum-hukum agama, tetapi juga nilai dan sikap hidup dalam agama yang tulus dan mulia.

Jadi pendidikan untuk anak bangsa ini, bukan hanya dikarenakan oleh Sekolah saja, tetapi peran orang tua, keluarga, masyarakat dan Negara. Cerdas yang bagaimana yang akan kita bekali kepada generasi akan datang, akan juga menentukan nasib keluarga, dan juga negara.

Anak Anda bukanlah anak Anda, Mereka adalah anak-anak kehidupan yang merindukan diri sendiri. Meskipun mereka datang melalui Anda, dan meskipun mereka bersama anda, mereka bukan milik anda.

Anda mungkin memberikan cinta, namun tidak pikiran anda, karena mereka memiliki pikiran sendiri.

Tubuh mereka mungkin ada dirumah anda, namun tidak jiwa mereka, karena jiwa mereka tinggal dalam rumah masa depan, yang tidak dapat anda kunjungi, bahkan tidak dalam mimpi anda.

Anda boleh berusaha menjadi seperti mereka, namun jangan membuat mereka seperti anda.

Anda adalah busur dari anak-anak anda, ditembakkan sebagai anak panah yang hidup.

Relakan diri anda melengkung di tangan pemanah demi kegembiraan.

Kahlil Gibran, Sang Nabi
Sumber : UBB

Manfaat dan Kekuatan Dongeng pada Psikologi Anak

Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu Kak Agam dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Manfaat Dongeng untuk anak :

1. Mengasah daya pikir dan imajinasi
2. Menanamkan berbagi nilai dan etika
3. Menumbuhkan minat baca

Kekuatan Dongeng pada Anak

Kak Bimo, seorang pecinta anak-anak, guru, trainer, sekaligus pendongeng yang sangat fasih dan piawai. Di kotanya Yogyakarta penulis mengenalnya tak hanya lantaran kemampuannya menyihir anak-anak dengan dramatis, namun juga karena muatan pesan moral yang dalam serta komprehensif mampu diselipkan dengan sangat apik dan tak membebani. Anak-anak demikian terbius segenap perhatian dan pikirannya pada alur cerita sederhana namun enak diikuti selama dongeng berlangsung. Kemudian kita mungkin mengenal PM Toh, pendongeng asal Aceh yang selalu mementingkan interaksi serta suasana yang aman dan nyaman bagi anak-anak yang mendengarkannya. Selain itu tak asing bagi kita yakni Kusumo Priyono, maestro dongeng Indonesia yang berpendapat bahwa dalam mendongeng biasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan, terutama moral dan budi pekerti. Selain itu, yang tak kalah penting adalah sarat nuansa hiburan bagi anak-anak (edukatif dan kreatif) sehingga anak merasa senang dan terhibur. Demikianlah, anak-anak memang sangat senang mendengarkan cerita atau dongeng. Terutama cerita yang dibacakan oleh orang tua atau orang dewasa.

Menimbang Manfaat Dongeng

Tak bisa disangkal bahwa dongeng memang memiliki daya tarik tersendiri. Di sebagian sisi, terjadi suatu fenomena klise, bahwa anak-anak sebelum tidur kerap minta mendengar dongeng yang dikisahkan oleh ibu, nenek, atau orang dewasa yang berusaha menidurkannya. Meski bisa saja ditafsirkan bahwa dongeng tak selamanya menyenangkan, namun kenyataannya memang dongeng mudah membuat anak tertidur, disamping dongeng disetujui sebagai aktifitas rileks memang memiliki potensi konstruktif untuk mendukung pertumbuhkembangan mental anak. Bercerita atau mendongeng dalam bahasa Inggris disebut storytelling, memiliki banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah mampu mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara anak, mengembangkan daya sosialisasi anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan orang tuanya. (Media Indonesia, 2006). Kalangan ahli psikologi menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Hal itu dipentingkan mengingat interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan mendongeng sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara yang tak kalah ampuh dan efektif untuk memberikan human touch atau sentuhan manusiawi dan sportifitas bagi anak. Melalui dongeng pula jelajah cakrawala pemikiran anak akan menjadi lebih baik, lebih kritis, dan cerdas. Anak juga bisa memahami hal mana yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Hal ini akan membantu mereka dalam mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar disamping memudahkan mereka menilai dan memposisikan diri di tengah-tengah orang lain. Sebaliknya, anak yang kurang imajinasi bisa berakibat pada pergaulan yang kurang, sulit bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Namun terlepas dari setumpuk teori manfaat tersebut, rasanya kita tetap harus berhati-hati. Karena jika kita kurang teliti, cukup banyak dongeng mengandung kisah yang justru rawan menjadi teladan buruk bagi anak-anak. Sebut saja dongeng rakyat tentang Sangkuriang yang secara eksplisit mengisahkan bahwa ibu kandung Sang-kuriang gara-gara bersumpah akan menjadi istri pihak yang mengambil peralatan tenun yang jatuh terpaksa menikah dengan seekor anjing. Tak cukup itu kondisi diperparah oleh kisah bahwa setelah membunuh sang anjing yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri Sangkuriang sempat jatuh cinta dalam makna asmara kepada Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri. Belum terhitung kelicikan Dayang Sumbi membangunkan ayam jago agar berkokok sebelum saat fajar benar-benar tiba, demi mengecoh Sangkuriang agar menduga dirinya gagal memenuhi permintaan Dayang Sumbi yakni merampungkan pembuatan perahu dalam satu malam saja. Karena muatan-muatan pada cerita dongeng harus dipertimbangkan dengan kondisi psikologi yang mungkin deserap oleh sang anak, jangan sampai terjadi kesalahan pemahaman dari dongeng yang dimaksudkan positif malah menjadi negatif...

Sumber http://www.dongengkakrico.com

Tuesday, February 22, 2011

Psikolog: Anak Nakal Adalah Anak yang Cerdas

img
(Foto: thinkstock)

Oleh : Vera Farah Bararah

Jakarta, Orangtua kadang suka kesal atau marah-marah jika melihat anaknya selalu membuat masalah atau nakal. Namun psikolog mengungkapkan bahwa anak yang nakal adalah anak yang cerdas.

"Saat ini konsep kecerdasan sedang booming di masyarakat dan anak yang pintar selalu identik dengan anak yang jago matematika. Padahal anak yang cerdas itu adalah anak yang bisa menemukan hal-hal baru," ujar Efnie Indrianie, MPsi, seorang psikolog anak dari Psychobiometric dalam acara Inovasi Sidik Jari Cerdas Frisian Flag 2011 Bantu Ibu Berikan Stimulasi Optimal untuk si Kecil di Giggle FX Jakarta, Selasa (22/2/2011).

Psikolog yang akrab disapa Pipin ini menuturkan anak yang cerdas itu adalah anak yang suka membuat masalah, hal ini berarti anak tersebut memiliki kreativitas tinggi atau termasuk anak yang kreatif.

Anak yang kreatif umumnya bisa menemukan hal-hal baru atau berhasil menemukan suatu masalah, dan jika dilihat lebih jauh ke dalam otaknya maka sinapsis-sinapsis (pertemuan antara ujung saraf dengan saraf lainnya) akan terlihat ruwet.

Jika sinapsis di otak ruwet menandakan adanya koneksi yang bagus antara sel-sel saraf di otak, serta hal ini berarti anak mendapatkan stimulasi yang baik dalam perkembangan otaknya.

"Anak yang nakal atau usil itu karena tidak ada yang bisa dia kerjakan, jadinya ia malah jahil ke teman-temannya atau justru mencari-cari masalah," ujar psikolog yang menjadi Kepala Bidang Kajian Psikologi Perkembangan Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Pipin menuturkan dalam hal ini orangtua harus menyalurkan apa yang dimiliki oleh anaknya, misalnya menyediakan alat-alat atau sesuatu yang bisa dikerjakan untuk menyalurkan bakat kreativitas si anak.

Sisi kreativitas ini termasuk ke dalam salah satu soft skill yang dimiliki anak, selain kreativitas ada juga beberapa soft skill lainnya yang dimiliki oleh anak yaitu:
  1. Kepercayaan diri, ada anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi, tapi ada juga yang memiliki demam panggung misalnya berani jika di dalam rumah tapi begitu di luar rumah atau bertemu dengan orang lain ia menjadi pendiam atau malu-malu.
  2. Kepedulian, ada anak yang memang sudah memiliki kepedulian sejak kecil. Misalnya ia hanya memiliki satu kue tapi temannya ada dua, maka dengan sendirinya ia akan membagi kue tersebut menjadi 3 lalu membagikan satu per satu ke teman-temannya.
  3. Inisiatif, ada anak yang memang diketahui memiliki inisiatif tinggi sehingga ia cenderung responsif.
  4. Kreativitas, ada anak yang diketahui memiliki kreativitas tinggi tapi ada juga yang tidak.
Sumber : http://health.detik.com/

Wednesday, December 29, 2010

Pendidikan Dini Berdampak Positif bagi Kemampuan Bahasa Anak-Anak

Hasilnya, anak yang dididik baik sebelum bersekolah, setelah besar punya kemampuan bahasa yang lebih baik Sebuah riset jangka panjang di AS yang melibatkan 1.300 anak lebih, meneliti pengaruh pendidikan dini terhadap perkembangan kemampuan belaja

Riset  melibatkan lebih dari 1.300 anak meneliti pengaruh pendidikan dini terhadap perkembangan kemampuan belajar. Penelitian itu dilakukan dengan mengikuti perkembangan anak-anak itu sejak lahir sampai berusia 10 atau 11 tahun.
 
Hasilnya, anak yang dididik baik sebelum bersekolah, setelah besar punya kemampuan bahasa yang lebih daripada yang tidak mendapatkan pengasuhan baik.
Para peneliti mengamati kualitas pengasuhan dan besarnya perhatian yang diterima anak-anak itu sampai mereka berusia 4,5 tahun.
 
Pengasuhan anak, selain yang dilakukan ibu anak itu, termasuk pengasuhan yang dilakukan oleh orang lain, setidaknya 10 jam seminggu. Ini termasuk pengasuhan yang dilakukan oleh ayah atau anggota-anggota keluarga lain.
 
Covington and Finn CampbellPengasuhan anak secara baik perlu dilakukan setidaknya selama 10 jam seminggu.
 
Para peneliti kemudian mengamati kinerja setiap anak di sekolah dan perkembangan sosialnya. Mereka juga mengukur faktor-faktor pengaruh lain, seperti mutu pendidikan sekolah dan perhatian yang diberikan guru.
Hasil penelitian itu menunjukkan, anak-anak yang memperoleh pengasuhan baik terus memperlihatkan kemampuan yang lebih baik dalam tes keterampilan bahasa.
 
Penelitian itu memastikan adanya kaitan antara pengasuhan anak yang baik dengan hasil tes yang lebih baik terus berlangsung sampai anak besar. Penelitian itu juga membuktikan, kemampuan anak tidak ditentukan oleh lamanya waktu mereka berada di tempat penitipan anak.
 
Banyak penelitian baru mengenai bagaimana kepandaian seseorang berkembang diterbitkan setiap tahun.  Baru-baru ini majalah Science News melaporkan penemuan salah satu penelitian itu, yaitu bayi dapat mengembangkan kemampuan bahasa dari musik dan irama yang diperdengarkan ibunya.
 
Sumber : hidayatullah.com