Latest News

Showing posts with label Inspirasi Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi Tokoh. Show all posts

Tuesday, April 12, 2011

Punya Sekolah karena Nyumbang Ribuan Buku

Casey Robbins (Foto: News10.net)
Casey Robbins (Foto: News10.net)
CALIFORNIA - Seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Amerika Serikat (AS), Casey Robbins, punya sekolah atas namanya di Liberia, Afrika Barat. Sekolah tersebut dinamai dengan namanya sebagai penghargaan pemerintah Liberia atas aksi Casey menyumbangkan puluhan ribu buku ke salah satu negara di benua hitam itu.

Siswa di SMA Mira Loma, Sacramento, California, AS, ini mulai melakukan aksi sosialnya sejak kelas delapan (2 SMP). Di usia belia, dia mulai mengumpulkan buku teks untuk dikirimkan ke Liberia. Aksinya bermula saat mendengar program radio yang mewawancarai Menteri Informasi Liberia yang membahas usaha negara ini bangkit dari kelumpuhan akibat perang saudara selama 14 tahun.

Robbins mendengar banyak orang usia dewasa yang buta huruf, dan selama lebih dari satu dekade, anak-anak tidak bisa sekolah. Setelah mendapatkan alamat surat elektronik sang menteri, Robbins mulai berkomunikasi. Atas simpatinya, dia pun memulai proyek yang diberi nama Text Books for Liberia.

"Saya melihat ada beberapa buku teks yang tergeletak di ruang staf sekolah. Kemudian saya bertanya kepada wakil kepala sekolah apakah bisa memilikinya. Dan dia menjawab, boleh saja asalkan saya tahu bagaimana cara mengirimkannya," kata Robbins seperti dikutip dari situs The Huffingtonpost, Jumat (8/4/2011).

Setiap tahun selama lima tahun terakhir, Text Books for Liberia mengirimkan satu kontainer berisikan perlengkapan sekolah untuk Liberia. Proyek ini telah menyumbangkan 14 ribu buku teks pelajaran.

Beberapa waktu lalu, Robbins mengunjungi Liberia. Di sana, dia disambut Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf. Sang presiden menerimanya di rumah eksekutif dan mengucapkan terima kasih atas kontribusinya. Robbins juga mengunjungi sekolah dengan namanya, yang dijadwalkan dibuka pada musim gugur mendatang atau sekira bulan September.

"Casey Robbins International School merupakan hal yang menarik bagi saya. Saya harus punya foto dengan tanda tangan untuk sekolah saya," ujar Robbins.

Robbins akan lulus tahun ini. Rencananya, dia akan kuliah di Universitas Stanford pada musim gugur. Meski kuliah, dia berencana melanjutkan proyeknya dan berharap dapat memperluas proyeknya ke sekolah dan negara lain. (rfa)(rhs)

Monday, April 11, 2011

Profesor Dong Tak Mau Dianggap Jika Muridnya Tak Sukses!

 Perilaku seorang profesor di China menimbulkan perdebatan. Pasalnya, profesor bernama Dong Fan ini membuat pernyataan kontroversial melalui microblog populer di China, Sina.
 
Direktur Pusat Penelitian Real Estate di Beijing Normal University ini memperingatkan mahasiswanya agar tidak mengunjunginya atau menyebutkan Dong sebagai mentor, jika mereka tidak memiliki pendapatan 40 juta yuan atau setara dengan Rp52 miliar (Rp1.324 per yuan) di usia 40 tahun.
 
�Kemiskinan bagi mereka yang mempunyai gelar pendidikan tinggi berarti rasa malu dan kegagalan,� tulis Dong di akun microblog-nya. Pernyataan Dong menarik perhatian ribuan netizen dan memicu diskusi panas tentang menjadi hamba uang dalam sistem pendidikan China.

Sebuah survei yang dihelat Ifeng.com atas pernyataan Dong menunjukkan, lebih dari 78,8 persen dari 124.882 responden menyatakan tidak akan mempertimbangkan hidup mereka masuk kategori gagal jika tidak mendapatkan 40 juta yuan.

 
Sementara 44 persen tidak melihat kekayaan sebagai satu-satunya indikator keberhasilan dan 26 persen benar-benar tidak setuju dengan pernyataan Dong. Meski memicu kontroversi, pernyataan Dong dipandang positif oleh sejumlah pihak.
 
�Ini memang kejam tapi nyata. Apa gunanya pendidikan tinggi jika tidak mampu menciptakan kekayaan dan mencari uang untuk orang yang Anda cintai?� tulis seorang netizen. Netizen lainnya yang bernama �Chaney� bertanya, �Apa salahnya mendorong orang untuk membuat keberuntungan?� seperti dikutip dari Xinhua, Senin (11/4/2011).
 
Menurut catatan situs pencarian kerja yang populer di China, Zhaopin, rata-rata pendapatan bulanan lulusan sarjana di Cina adalah 2.321 yuan atau setara dengan Rp3 juta. Lulusan pascasarjana menerima penghasilan rata-rata 3.254 yuan atau setara dengan Rp4,3 juta per bulan pada 2010.

Survei terpisah yang dilakukan atas 5.866 perusahaan, yang juga dilakukan Zhaopin menunjukkan, orang yang bekerja di real estate mendapat pendapatan tahunan rata-rata 66.700 yuan atau setara dengan Rp88.3 juta. Bekerja di bidang real estate merupakan profesi dengan bayaran tertinggi kedua.


Menanggapi keraguan dan kritik atas dirinya, Dong mengklarifikasi pernyataan yang menuai kontroversi. Menurutnya, tulisan itu merupakan alat untuk �menggoda� agar mahasiswanya mau bekerja keras saat memasuki dunia bisnis. Dan yang terpenting, pesan ini tidak berlaku untuk semua pekerjaan.

 
�Empat puluh juta yuan tidak akan menjadi standar yang tinggi untuk seorang manajer senior atau pemilik dengan gelar pascasarjana saat mahasiswa saya menjadi 40 tahun,� tulis Dong sambil menambahkan pernyataannya adalah tentang uang dan investasi di bidang real estate, bukan tentang moralitas.


Tuesday, December 28, 2010

2 Dokter Indonesia Yang Mendunia

Sampai saat ini, Indonesia masih sangat kekurangan dokter ahli bedah. Dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, dokter ahli bedah yang dimiliki baru 120 orang atau rasionya 1 : 2 juta. Artinya, satu orang dokter bedah harus melayani 2 juta penduduk.

Dari jumlah yang sedikit itu, Prof dr Eka Julianta Wahyoepramono adalah salah satunya. Spesialisasinya pada ahli bedah syaraf (neurosurgeon), khususnya bedah batang otak, tentu saja membuat dr Eka Julianto makin menjadi orang dengan profesi yang langka di negeri ini.

Sebagai ahli bedah syaraf, nama dr Eka Julianta tak diragukan lagi. Reputasinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi sudah mendunia. Misalnya, dia adalah visiting professor di Harvard
University Medical School. Prestasi ini sampai saat ini belum bisa disamai oleh dokter-dokter Indonesia lainnya.

Alasan seperti itulah yang membuat Pitan Daslani kemudian menuliskan biografi dr Eka Julianta. Buku yang diberi judul Tinta Emas di Kanvas Dunia itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur.

Kenapa diberi judul "Tinta Emas"? Bukankah sebagai dokter bedah mestinya dr Eka biasa memegang pisau dan peralatan-peralatan bedah lainnya? Rupanya Pitan punya alasan sendiri. "Dokter Eka telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kedokteran, ketika untuk pertama kalinya dokter Indonesia dijadikan sebagai referensi bagi dokter dan mahasiswa kedokteran di seluruh dunia," katanya.

Dr Eka Julianta Wahjoepramono adalah satu-satunya dokter yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia.
Ia tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien. Sukses ini juga yang melambungkan namanya ke kancah internasional, dan disegani dokter-dokter bedah saraf dunia.

"Saat ini juga, Dokter Eka saya nyatakan dicatatkan di rekor Muri, karena prestasinya berhasil membedah batang otak," ujar pendiri Muri Jaya Suprana saat peluncuran buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur.

Menurut Jaya Suprana, yang juga pemilik perusahaan Jamu Jago Indonesia, prestasi Dr Eka luar biasa. "Sepengetahuan saya, batang otak tidak boleh diutak-atik. Tabu. Saking tabunya, batang otak disebut urusan Tuhan. kalau Dokter Eka menjadi bisa mengutak-atik batang otak, berardi anda ini sudah bagian dari Tuhan," kata Jaya, yang dikenal sebagai pemusik dan suka melawak.

Penulis Buki Tinta Emas di Kanvas Dunia , Pitan Daslani mengatakan, sudah mengecek se-Asia, sejauh ini, baru Dr Eka yang pertama dan berhasil membedah batang otak.

Prestasi membedah otak berawal 20 Februari 2001. Ketika itu, Ardiansyah, warga Merak, Banten, datang dalam kondisi kritis. Buruh nelayan berusia sektiar 20 tahun itu datang dalam kondisi saraf-saraf lumpuh, kaki dan tangan lumpuh, mata pun melotot, napas tersengal-sengal. Setelah didiagnosa, Ardiansyah ini terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak.

"Saat itu, dunia termasuk dokter bedah saraf pun belum berani mengutak-atik batang otak. Karena kalau salah sedikit, pasti mati atau lumpuh. Tapi karena pilihannya mati atau hidup, saya beranikan diri membedah batang otak Pak Ardiansyah ini," ujar Dr Eka sambil menunjuk Ardiansyah yang berdiri di sampingnya.

Ardiansyah soerang yatim piatu. Saat itu dia datang diantar seorang kakaknya. Dalam peluncuran buku kemarin, ia juga memberi kesaksian. "Saya sudah pasrah, karena sakitnya. Alhamdulillah, dokter Eka ini dapat merawat. Saya ucapkan terima kasih," ujar Ardiansyah.

Selain Ardiansyah, ada lagi pasien miskin, Jumiati. Mahmud, suaminya, kepala sekolah swasta di Cengkareng, Jakarta Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, Mahmud bekerja sambilan sebagai pemulung sampah. Operasi Ardiansyah dan Jumiati dilayani Dr Eka secara cuma-cuma di RS Siloam.

Bedah buku dipandu presenter Kick Andi, Andi F Noyo dengan pembicara Dr Eka, pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri) Jaya Suprana, dan penulis buku Pitan Daslani. Sejumlah pasien yang berhasil diselamatkan hadir dan memberi kesaksian, keluarga mantan pasien yang gagal operasi dan meninggal pun tetap memuji karya dokter Eka.

Pasien lainnya, anggota TNI Angkatan Udara Kolonel Budi Laksono, mengatakan kesalutannya akan keberhasilan Dr Eka memulihkan kondisi kesehatannya dari serangan stroke. "Saya sudah 10 tahun menderita stroke. Dulu saya pilot TNI AU untuk pesawat Falcon-15 (F-15) dan F-16, dan Hercules. Walau tidak bisa lagi bermain-main di udara, saya bersyukur karena bisa karena bisa aktif di TNI AU sebai staf," ujar Budi.

Pujian lainnya dikemukakan Ny Lana Sarwono, janda Sarwono gagal saat mengalami operasi kedua kali. "Semula, saya mengalami pergulatan batin, mengapa Dokter Eka gagal menyelamatkan suami saya. Tetapi akhirnya saya dapat menerima, inilah takdir dari Tuhan dan saya mengikhlaskan suami saya pergi," kata Lana, sebelum menerima buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia.

Lana melanjutkan, di balik kegagalan operasi otak suaminya, masih ada hikmah. Lana menandaskan, "Saya berharap kiranya Dokter Eka dapat menyelamatkan lebih banyak, ratusan bahkan ribuan orang penderita otak."

2. Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D.,

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) menerima penghargaan internasional sebagai dokter spesialis anak terbaik dari Asosiasi Dokter Anak Asia-Pasifik atau APPA. Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award tersebut diterimanya akibat prestasi-prestasinya yang dianggap menonjol dalam penelitian mengenai penyakit diare pada anak selama tiga tahun terakhir. Penghargaan diberikan dalam konferensi APPA di Shanghai, China, yang berlangsung pada tanggal 4 � 18 Oktober 2009.

Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award sendiri diberikan setiap tiga tahun sekali. Pada tahun ini, Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D. menjadi salah satu dari 12 dokter anak yang menerima penghargaan. Dan mereka pun telah dipilih dari 2.500 dokter anak se-Asia Pasifik.

Penghargaan tersebut merupakan buah dari perjuangannya selama 40 tahun dalam meneliti penyakit diare pada anak. Bersama Prof. Ruth Bishop dari Australia, ia meneliti infeksi yang disebabkan oleh rotavirus pada penderita diare di Indonesia. Penelitian ini menemukan hasil yang mengejutkan bahwa ternyata rotavirus lah yang menjadi penyebab utama penyakit diare di Indonesia.

Ia mengatakan sebagian besar bayi penderita diare yang disebabkan rotavirus memiliki kualitas hidup yang rendah. Bayi mengalami muntah secara terus-menerus, berak air, dan susah mengonsumsi makanan. Usus halusnya pun tak dapat berfungsi dengan baik.

Hasil penelitian tersebut pada akhirnya mengubah terapi pengobatan

Penemuan ini mengubah terapi pengobatan diare yang sebelumnya lebih banyak menggunakan antibiotik. Hasil penemuan tersebut pada akhirnya mendorong Pemerintah Indonesia untuk memproduksi vaksin rotavirus dengan harga yang cukup murah. Sebab, vaksin diare yang ada selama ini relatif mahal. Bekerja sama dengan Melbourne University dan PT Biofarma, vaksin tersebut direncanakan akan dipasarkan mulai tahun 2012 di Indonesia. 
 
Sumber :http://forum.vivanews.com